Kamis, 07 Mei 2020

眠れない夜 Can't sleep

I'm telling you
I softly whisper
Tonight...tonight...
You are my angel

愛してるよ
2人は1つに
Tonight...tonight...
I just to say

Wherever you are i always make you smile
Wherever you are i always by your side
Whatever you say,
君を想う気持ち
I'll promise you forever right now

I don't need a reason
I just want you, baby
Alright...alright...
Day after day

この先永いことずっと
どうかこんな僕とずっと
死ぬまで、stay with me
We carry on

Wherever you are i always make you smile
Wherever you are i always by your side
Whatever you say,
君を想う気持ち
I'll promise you forever right now

Wherever you are i never make you cry
Wherever you are i never say goodbye
Whatever you say,
君を想う気持ち
I'll promise you forever right now

僕らが出逢った日は
2人にとって1番目の記念すべき日だね
そして今日という日は
2人にとって2番目の記念をすべき日だね

心から愛せる人
心から愛しい人
この僕の愛の真ん中には
いつも君がいるから

Wherever you are i always make you smile
Wherever you are i always by your side
Whatever you say,
君を想う気持ち
I'll promise you forever right now

Wherever you are
Wherever you are
Wherever you are

(ONE OK ROCK-Wherever You Are)


Hahaha...lagu lama banget ya.
Iyasih. Gatau kenapa malam ini dengerin lagu ini jadi ngerasa,

Betapa beruntungnya mereka yang bisa saling mencintai seperti lagu ini. Baiklah, aku iri banget haha. Bisa gak, 'cinta' terasa seindah yang diungkapkan di dalam lagu ini?

Well...
Aku suka banget kata-kata ini "wherever you are, i always by your side".
Entah kenapa seluruh lirik di lagu ini sejalan banget sama definisi cinta menurutku pribadi. Dia give give give give wkwkwk, lebih banyak mengungkapkan upaya dia untuk mewujudkan rasa cinta itu berfokus pada yang dicintai, bukan tentang perasaan dia melulu. Mungkin karena saking cintanya ya, jadi dia sebegini pengen menyamankan yang dicintainya.
Baiklah, Moriuchi Takahiro, makasi udah buat lagu se baper ini.

Jumat, 17 April 2020

Ikan Cupang dan Makhluk Ter-egois

Malam ini, ingin sekali menulis disini. Sambil mblebes mili, aku menulis disini tepat pukul 22:56. Sesekali boleh kan, aku mellow...kali ini benar-benar aku merasa hatiku sedang 'disentuh' oleh Tuhan semesta alam.

Berawal dari sebuah kejadian menyedihkan. Aku berniat ke kamar mandi. Seperti biasa, di kamar mandi aku selalu lihat ke bawah (lantai) dan aku selalu merasa ganjal apabila ada benda terjatuh atau mengotori lantai, misalnya rontokan rambut, atau air sabun sisa mandi, atau busa detergen atau apapun itu. Aku akan segera menyiramnya, baru setelah itu bisa memakai kamar mandi. Kali ini, baru membuka pintu dan berjalan sejangkah masuk ke kamar mandi, aku melihat sesuatu yang bening tergeletak di lantai. Sempat kukira itu -maaf- ingus atau apa dan aku sudah siap-siap mau menyiramnya dengan air, ketika tiba-tiba aku sadar itu adalah bangkai seekor ikan!
Ya, di dalam bak mandi kami, kami memelihara ikan cupang karena himbauan pemerintah supaya jentik-jentik nyamuk tidak ada di dalam bak mandi. Seperti kita tahu, bahwa nyamuk yang berkembangbiak pesat akan menyebabkan sakit demam berdarah. Karena itu, pemerintah di daerah kami sangat keras menghimbau agar jangan sampai dalam bak terdapat jentik nyamuk. Bahkan, konon, ada dendanya. Untuk mengontrol hal ini, yang bertujuan tentunya membuat masyarakat sehat, diadakan monitoring oleh ibu-ibu yang sudah ditentukan dalam jadwal pengecekan. Seminggu sekali, ada 2 ibu-ibu, secara terjadwal datang ke rumah untuk memeriksa seluruh tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Terutama bak mandi dan tempat penampungan air.
Kembali ke ikan mati. Aku langsung memungut ikan itu. Ikan betina. Di dalam bak, tersisa 1 ekor ikan cupang jantan yang berdiam saja di dasar bak. Tak seperti biasa yang berenang kesana kemari.
Entah bagaimana ikan betina ini bisa berada di lantai. Entah karena ia meloncat sendiri (yang agaknya mustahil), atau kemungkinan terbesar, yaitu kecerobohan kami yang membiarkan kran air menyala sampai meluap-luap. Singkatnya, ikan itu sudah mati.
Hal yang menyedihkan, tiba-tiba aku teringat ikan itu ada di dalam bak kami baru sekitar 1 bulan. Sengaja membeli sepasang, jantan dan betina agar ikannya tidak kesepian (logika kami berpikir demikian, entah realitanya bagaimana). Keduanya begitu cantik berwarna oranye keemasan. Sepasang ikan ini datang untuk menggantikan seniornya yang baru saja mati juga. Mati, karena tau-tau aku mendapatinya ada di dasar bak, diam saja seperti pingsan. Kami ambil, masih hidup. Tapi nyata bahwa ikan ini lemas. Sisiknya berdiri. Aku tak mengerti kenapa, kemudian aku cari di google informasi tentang ikan cupang dengan gejala demikian dan aku temukan bahwa ikan cupang dengan kondisi seperti itu, kemungkinan hidupnya sangat kecil, alias, dia sebentar lagi akan mati.
Aku coba beberapa tips yang kudapatkan dari google. Sembari mencoba, aku menyadari sesuatu bahwa ternyata ikan yang awalnya berwarna merah kebiruan seperti beludru itu warnanya sudah pudar. Nah, hal itu pula yang terjadi pada ikan kami sekarang.
Aku penasaran, apa yang membuatnya demikian? Ternyata, salah satu penyebabnya adalah, kualitas air yang jelek dan tidak sehat. Menyebabkan ikan berumur pendek dan cepat mati.
Bukan, bukan beracun. Tapi kualitas air tidak baik. Karena ini air PDAM, hmm mungkin karena kandungan bahan kimianya yang tidak bisa ditoleransi ikan? Entahlah...
Tapi, dari kejadian ini aku menyadari satu hal. Keegoisan manusia. Demi untuk menyelamatkan dirinya dari derita, sakit, misalnya, manusia tak segan untuk mengorbankan makhluk lain yang baginya, mungkin nyawa makhluk itu tidak punya arti dan harga. Jika mati, buang saja. Mudah. Beli yang baru, kalau mati, beli lagi. Yang penting tidak ada jentik.
Entah mengapa...aku merasa memelihara ikan cupang di dalam bak yang jelas-jelas airnya tidak sehat adalah sebuah upaya menjaga kesehatan manusia sebagai keutamaan, yang dalam perjalanannya sama saja seperti membunuh makhluk Tuhan yang memberikan manfaat itu, secara pelan-pelan.
Manusia menyepelekan nyawa ciptaan Tuhan, demi kepentingannya, menjaga dirinya bertahan hidup dan sehat. Bukan hanya kami, banyak. Dan bukan hanya berupa ikan cupang di bak mandi, banyak hal lain yang serupa.
Kita, manusia mengupayakan hidup yang nyaman dan sehat dalam rangka memperpanjang umur kita.

Sebenarnya untuk apa sih kita mengusahakan diri berumur panjang?
Apa yang ingin kamu lakukan dengan umur panjang?


Untuk menikmati hidup ini, dan menyakiti lebih banyak makhluk?

Sebenarnya, apakah kita ada disini sebagai monster perusak?

Entah mengapa, dari sini aku menyadari, bahwa manusia itu makhluk Tuhan yang tak tahu malu. Menikmati segala fasilitas Tuhan dan menganggap dirinya utama untuk diprioritaskan hidup dengan nyaman di muka bumi ini, dan mungkin karena merasa sebagai makhluk yang tercipta dengan sempurna, lantas merasa dirinya utama dan tidak punya sopan-santun dan adab buat menginjakkan kaki diatas fasilitas Tuhan ini.
Jadi, sadar ataupun tidak, ingat dan pikirkanlah segala upayamu sampai saat ini untuk bertahan hidup dan segala usahamu menciptakan kehidupan yang nyaman di muka bumi ini.

Sudah berapa banyak makhluk ciptaan Tuhan yang kau korbankan demi egomu??

Bersyukur, diciptakan sebagai manusia??
Puas??

Sabtu, 11 April 2020

Because This is My First Life

Because this is my first life? Yes, your first life. My first life. Everybody's first life.

Masih ada hubungan dengan postingan yang sebelumnya, kali ini aku pengen bicarakan tentang "Because This is My First Life". Sebuah drama yang bercerita tentang kehidupan seorang cewe dan cowo di era modern yang masih belum bisa lepas dari patriarki. Bukan sebuah drama biasa, drama ini mengangkat isu patriarki dan membuka mata kita tentang seperti apa stigma sosial kita terhadap perempuan. Butuh pikiran yang terbuka dan pemikiran yang dalam untuk memahami bagaimana pesan-pesan moral terkait budaya patriarki yang sangat banyak disinggung dalam drama ini. Well, i can say, this drama is the best drama ever!
Diawali dengan kehidupan tokoh utamanya, Jiho, seorang cewek usia 30an, lulusan Universitas Nasional Korea (konon termasuk Universitas terbaik di Korea), yang bekerja sebagai penulis skenario drama. Di perantauan, dia tinggal di sebuah rumah yang dia beli secara kredit dengan kerja keras. Kemudian, adik laki-lakinya menyusul untuk tinggal bersamanya di Kota. Jiho, bekerja keras untuk mencari uang, juga mengurus semua pekerjaan rumah. Suatu kali, ketika dia pulang ke rumah, dia mendapati rumahnya kotor dan membuatnya marah. Dia segera menuju ke kamar adiknya untuk menegur, tapi ternyata adiknya sedang asik sama pacarnya (u know). Jiho yang kaget dan shock langsung keluar rumah dan bertemu teman-temannya untuk menenangkan diri. Btw, Jiho belum pernah pacaran.
Orangtua Jiho tinggal di Namhae. Ayahnya sangat patriarkis, menganggap perempuan itu rendah, dan sebaliknya, dia selalu mengutamakan laki-laki. Suatu hari, adik Jiho dan pacarnya berkumpul dengan orangtua mereka, dan mengatakan mereka akan menikah karena pacarnya sudah hamil. Ayahnya marah, tapi, setelah tahu anak yang dikandung itu laki-laki, ayahnya langsung menyayang-nyayang adik Jiho dan pacarnya. Setelah menikah, mereka berencana akan tinggal di rumah Jiho (sumpah ini gatau diri banget). Jiho menolak. Tapi, ayahnya memaksa Jiho menerima karena dia lebih membela anak laki-lakinya. Jiho kemudian memilih untuk keluar (dari rumahnya sendiri). *sedih banget...
Source: alinea.id

Singkat cerita Jiho kemudian mendapat orang yang menyewakan kamar kosong apartemennya dengan harga murah, tapi dengan syarat dia akan diseleksi oleh pemilik apartemen itu. Mereka tidak pernah bertemu langsung, hanya bicara lewat chat bahkan setelah mereka tinghal dalam 1 apartmen. Mereka tidak pernah bertemu karena si pemilik berangkat kerja pagi-pagi dan pulang larut malam. Dalam waktu singkat, terjadilah misskom disini. Pemilik apartment mengira Jiho laki-laki, dan sebaliknya Jiho mengira pemiliknya perempuan. Jiho terpaksa diputus kontrak karena dia perempuan. Meskipun pemiliknya suka dengan sikap Jiho yang rajin bersih-bersih dan suka kucing, serta tidak pernah mengganggu kehidupan pemilik apartment.
Kembali terlunta-lunta, Jiho kemudian memilih untuk tidur di sebuah ruang kosong di kantor tempatnya bekerja. Di sanalah kemudian dia mengalami percobaan pemerkosaan dari rekannya. Malam-malam, dia melarikan diri dan berjalan tanpa arah. Semua orang melihatnya dengan tatapan risih karena dia masih memakai baju tidur. Tak terasa langkah membawanya menuju apartment lamanya. Disana dia bertemu pemilik apartment dan dipersilahkan mampir. Tiba-tiba muncul ide gila, ketika si cowok menawarkan diri untuk menikah. Bukan cinta, bukan suka, cowok ini didesak orangtuanya untuk menikah (karena ibunya mengancam kalau dia tak menikah juga, ibunya akan diceraikan karena dianggap tidak bisa mendidik). Jadi, pernikahan itu hanya kontrak, mereka butuh status saja, selebihnya Jiho tetap menjadi penyewa kamar dan hidup seperti biasa. Kemudian, Jiho berpikir bahwa saat itu yang dia butuhkan hanya tempat tinggal. Bukan cinta atau yang lainnya.
Mengetahui kejadian yang menimpa Jiho di Kantor, atasannya mengundang dia untuk melakukan mediasi agar bisa berdamai. Sayangnya, disini, Jiho yang menjadi korban percobaan pemerkosaan justru disuruh mengalah dan tidak dianggap serius. Pelecehan itu dianggap sebagai sebuah hal kecil yang hanya perlu dimaafkan lalu kembali lagi seperti semula. Setelah banyak kejadian-kejadian hingga ia resign dan kehilangan pekerjaan kemudian, Jiho memutuskan pulang ke rumah orangtuanya. Dia meninggalkan skenario yang telah dibuatnya di kamar, seperti barang tak berharga. Ketika dia ada dalam bis menuju Namhae, pemilik apartment tiba-tiba muncul untuk memberikan skenario itu dan mengira itu barang yang tertinggal. Di tebgah frustasi, Jiho kemudian menanyakan apakah ajakan pernikahan kontrak masih berlaku? Dan mereka pun menjalani pernikahan kontrak dengan segala tantangannya wkwkwk...
Termasuk ketika Jiho diundang ibu mertuanya untuk acara peringatan keluarga dan dia terpaksa mengerjakan pekerjaan rumahtangga yang super menguras tenaga. Jadi menantu di korea berat banget guys...
Tidak hanya Jiho, isu tentang patriarki dan kesetaraan gender juga diangkat dalam hampir semua cerita tokoh perempuan dalam drama ini. Tentang bagaimana perempuan dilecehkan dalam hubungan pekerjaan, bagaimana produktivitas perempuan tidak dipandang dan tidak dihargai, bagaimana perempuan dijadikan sebagai objek pelecehan dan objek untuk emnunjukkan relasi kuasa, tentang bagaimana kita memandang pernikahan, sampai ke isu maskulinitas dan misoginitas yang dimunculkan secara komplit dalam drama ini.
Berharap sekali lebih banyak orang menonton drama ini agar tahu seperti apa sebaiknya kita mengoreksi pola pikir kita sebagai sesama manusia.
Well, i recommend this drama for you to watch! Kita bisa belajar banyak hal dari drama ini.

Jumat, 03 April 2020

Film Vs Baper (Review Kim Ji Young: Born in 1982)

Ada banyak film yang bagus yg pernah kutonton. Susah bgt menentukan mana yg terbaik. Tapi, aku suka sekali film yg realistis dan bisa menyentuh kita, menggugah utk menyadari hal kecil yang luput dari perhatian kita, dan menjadikan kita belajar untuk menjadi yang lebih baik lagi sebagai manusia.

Baru aja nonton film korea "KIM JI YOUNG:BORN 1982". Cukup menyentuh. Jujur, aku suka banget sama film atau drama korea yg punya genre cerita tentang keluarga atau sejarah. Film yang genre nya keluarga membuatku lebih sadar dan lebih bisa menghargai keluarga (manusia-manusia terdekatku), kalau film yang genre sejarah membuatku lebih banyak pengetahuan tentang intrik dan politik dalam kehidupan. Bahwa manusia itu jenisnya macam-macam dan kita perlu belajar untuk hidup berdampingan.
Well, ih kok suka korea sih??? Menurutku gak bijak kita menilai sesuatu hanya dari nama negaranya. *Aneh kan...
Jangan underestimate dulu sama negaranya. Kita harus objektif menilai sesuatu yang bagus ya bagus. Yang tidak ya tidak. Lihat dulu objeknya, jangan liat sampul doang udah alergi. Kamu gak akan belajar apapun kalo kayak begitu. By the way, tidak semua film korea aku suka, tapi banyak sekali film korea yang menurutku punya cerita yang bagus dan worth it buat ditonton karena banyak pembelajarannya.


Drama saeguk atau kolosal favoritku adalah DONG YI atau Jewel in The Crown, bisa banyak belajar politik disini. Lalu, Master of The Mask juga bagus. Untuk drama, aku suka dengan drama berjudul Because This is My First Life, yang menceritakan kisah seorang cewe dan seorang cowo yang menjalani pernikahan kontrak karena beratnya hidup di era modern. Diwarnai juga dengan isu-isu kesetaraan gender dan sedikit menyinggung budaya patriarki masyarakat. 
Back to film Kim Ji Young: Born in 1982 tadi. Jadi, film ini mengisahkan tentang kehidupan seorang wanita yang menjadi ibu sekaligus istri dan menantu di era modern ini yang berjuang menghadapi perubahan zaman, tapi masyarakat yang masih sempit dalam memandang kesetaraan gender. Jadi, Kim Ji Young ini  tertekan pasca dia menikah dan memiliki anak, karena secara tak langsung dituntut untuk menjadi istri, ibu dan menantu dan melupakan rutinitas semulanya sebagai wanita yang punya mimpi dan ambisi, pokoknya hidup dia penuh dengan tekanan dari berbagai hal. Terutama dari ibu mertuanya. Konon, memang seperti itulah budaya patriarki di Korea Selatan masih terus berlanjut hingga saat ini. Laki-laki memiliki kekuasaan lebih. Perempuan menjadi peran yang memiliki banyak tugas dan tanggungjawab namun tak memiliki kuasa sebesar laki-laki. Ada 1 percakapan menyentuh yang aku ingat di salah satu scene film ini. Ketika pasangan ini membicarakan tentang kelak jika mereka punya anak. Sang istri berkata pada suaminya "ada banyak hal yang akan berubah ketika aku melahirkan anak." Lalu si suami dengan sumringah menimpali "ya, tentu. Aku juga akan mengalami banyak hal yang berubah nanti". "Apa yang berubah darimu?" Tanya sang istri. "Ya, aku harus pulang cepat untuk bermain dengan anak, aku mungkin harus mengurangi minum (alkohol), mengurangi bermain dengan teman-temanku..."
Kemudian sang istri terlihat lesu mendengarnya. Nggak tau ya, aku juga penasaran, apa sih yang berubah ketika laki-laki mempunyai anak?
Dan apakah perubahan itu sebuah perubahan besar yang setara dengan bagaimana perubahan yang dialami seorang wanita setelah ia melahirkan anak?
Entahlah...tapi film ini cukup menyadarkanku bahwa wanita itu hebat. Sebagian mereka kadang terlihat lemah, dengan badan yang kurus, ketidakmampuan membuka tutup botol atau mengangkat barang berat dsb. Tapi, jauh di dalamnya, wanita memiliki beban hidup yang sangat menguji mental, yang mana kamu tidak akan pernah bisa tahu karena psikis dan mental itu tidak terlihat dengan mata. Berbeda dengan orang yang sakit secara fisik atau terluka berdarah-darah, kamu akan tahu orang ini butuh ditolong. Tapi mental?
Film ini sekaligus membuatku begitu salute pada sosok seorang ibu. Kita kadang tak segan untuk protes pada ibu tentang hal-hal yang tidak memanusiakannya. Kita suka ikut menuntut ini dan itu, tanpa menyadari kita sudah banyak merepotkan ibu. Seorang ibu membesarkan kita dengan banyak hal yang harus dilaluinya. Baik ibu yang bekerja maupun ibu rumah tangga, dua-duanya memiliki pergulatan mental yang hebat untuk membesarkan kita. Dan kadang, kita masih nggak tau diri dengan protes ini itu bahkan membandingkan dengan sosok lain. Kita hadir di dunia, untuk menuntut itu???
Ayolah, kita mulai dari sekarang. Kita sudah dewasa, mari kita perlakukan orangtua kita sebagai manusia. Ayo kita bekerjasama dengan mereka untuk saling menjaga mental satu sama lain. Orangtua kita juga manusia, sama seperti kita. Ibu kita mungkin salah satu produk yang senasib dengan Kim Ji Young. Harus kita sadari dia  mungkin juga punya keinginan dan mimpi. Dan karena ibu adalah manusia juga, kita harus sadari bahwa pasti ada tak sempurnanya juga. Tapi, ayo kita coba untuk mengapresiasi mereka...
Plus, untuk semua perempuan...ayolah kita buat kehadiran kita menjadi lebih berarti buat sesama perempuan. Kita harus saling mendukung dan jangan menjatuhkan perempuan lain yang secara tak sengaja akan melanggengkan budaya patriarki ini. Kamu boleh merasa hidupmu fine dengan patriarki, tapi perempuan lain, belum tentu. Jadi, kita berlaku baik pada semua manusia, pada dasarnya prinsipnya demikian, bukan?
Jadi, mari kita lebih menghargai setiap jiwa yang kita temui. Jangan mudah mengambil kesimpulan atau mengeluarkan kata-kata yang menghakimi seseorang, karena kita tak pernah tahu pergulatan macam apa yang dia lalui. Karena kenyataannya kita buta, tak bisa melihat kondisi psikis orang lain.
Satu lagi, film ini menyadarkanku betapa pentingnya kerjasama di dalam sebuah pernikahan. Jadi, jangan berfikir bahwa menikah itu sebagai ajang untuk menunjukkan relasi kuasa. Hiduplah menjadi manusia yang penuh cinta  baik para calon suami maupun para calon istri. Sadarilah bahwa manusia tidak ada yang sempurna dan fokuslah untuk bekerjasama saling membahagiakan dan menolong. Buat komunikasi yang baik. Jangan sampai, menikahi seseorang justru membuat kamu membuat catatan kedholiman terhadap sesama manusia. Hargailah perempuan, karena perempuan juga manusia.

Rabu, 08 Januari 2020

Hari Perempuan

女性の日 josei no hi. Hari Perempuan. Wkwk, ini bukan nama hari besar atau hari libur nasional di Jepang ya...hanya sebutan untuk hari dimana hanya perempuan lah yang bisa mengalami fenomenanya. Fenomena apa?
Hehehe...tentunya kita semua udah tau, dan di sekolah pun diajarkan kalo dalam siklus hidupnya, laki-laki dan perempuan mengalami fase perubahan yang berbeda secara biologis yang menandakan bahwa  seorang individu dinyatakan matang secara seksual. Di tulisan kali ini, aku mau bahas tentang yang dialami oleh perempuan, yaitu, "Menstruasi".
Oops...!!! Kenapa? Harapanku sih dari tulisan ini bisa menambah pengetahuan dan membuka pikiran kita supaya nggak menganggap menstruasi sebagai hal yang tabu dan harus disembunyikan bak sebuah aib. No, i have this cycle every month because my body is healthy enough to do that!
Jadi, sebelum lanjut baca, dibuka dulu ya pikirannya 😊

Beberapa tahun silam, sebagai seorang asisten dosen pada kala itu, aku datang menggantikan dosenku yang berhalangan hadir. Kadang, aku hanya membantu mengajar, tapi karena kali ini para mahasiswa dijadwalkan UTS, maka tugasku hanya mengawasi mereka ujian. Seorang mahasiswi yang duduk paling belakang sedang nggelosor di mejanya, sementara seorang teman laki-laki yang duduk di sampingnya terlihat khawatir sambil berulang kali menanyakan apa dia sanggup ikut ujian. Aku datangi mereka (mereka adalah mahasiswa jurusan keperawatan), dan menanyakan apakah mahasiswi itu baik-baik saja. Dia mengangkat kepalanya, "nggak apa-apa, sensei" jawabnya pelan lalu berusaha terlihat segar. Teman di sampingnya mengelus punggung mahasiswi itu dan berkata "lagi dismenor, sensei." Jawabnya. Oooh...akupun langsung paham dan terbayang betapa 'menyiksanya'. Aku tawarkan dia untuk pulang dan ikut ujian susulan saja, tapi dia menolak. Dengan wajah yang hampir menangis, dia berusaha sekuat tenaga mengerjakan soal ujian sampai selesai.
Yah...semacam itulah kurang lebih. Aku juga pernah mengalaminya waktu UN SMA dulu, ujian matematika bertepatan dengan jadwalku menstruasi, hari pertama dong! Yah tak jauh beda dengan mahasiswi tadi, aku juga nggelosor di meja, mengabaikan soal UN sekitar 20 menit tertidur di atas meja. Temanku semuanya sudah paham kalau aku selalu seperti itu (hahaha) jadilah mereka hanya bertanya "meta, gak apa-apa? Jangan pingsan loh!" Hehehe. Alhamdulillah 20 menit kemudian bisa mereda sakitnya dan mengerjakan soal UN sampai selesai.
Sebenarnya yang dirasakan cewe waktu menstruasi itu beda-beda, sih. Ada yang biasa aja, ada yang sakit dikit, kram dikit ada juga yang sakit buanget berasa mau mati.
Awalnya, aku termasuk yang biasa-biasa aja. Palingan kemeng dikit, mules dikit. Tapi menginjak usia SMA, entah pengaruh psikologis atau hormon, jadi lebih sakit kayak mau pingsan. In my version, kalo lagi menstruasi, rasanya macem perut tuh dikremes (dikremes sama tangan yang ada kukunya panjang-panjang), badan pegel semua, berat, kaki berasa kayak ditarik kenceng, kepala pusing, kadang migrain, diikuti sama mata pedes, ngantuk, mual, dan kadang kalo pas nggak fit bisa sampe demam dan masuk angin. Kalo lupa makan, beuhhh...mantapjiwaaa langsung pandangan mata jadi sepia mode dong, plus keringet dingin dan jantung berdebar-debar 🤪
Yah...memang seperti itulah rasanya. Jadi, jangan dikira menstruasi itu cuman persoalan perut mules ya!
Rata, semua badan ancur dah pokoknya wkwk.
Belum lagi dengan kondisi begitu harus terbiasa, kalo ke kamar mandi dan buang air kecil, udah berasa kayak nyembelih hewan qurban...wkwk. so, hampir bisa dipastikan cewe jarang yang takut sama darah. Tiap bulan, itu pemandangan yang harus dia liat soalnya. Ya ngeri sih...meski udah menstruasi berrrrkali-kali, tetep aja ngeri liatnya. Tapi toh tetep harus dilihat dan dibersihkan (dengan kondisi badan lemesss).
Belum lagi kalau nembus, banyak deh cucian...😔
Gimana dengan mood? Emang sih...mood jadi lebih sensitif waktu menstruasi. Bukan tentang marah-marah ya...ekspresi emosional dan sensitif disini bisa berupa gampang nangis, mood swing, gampang tersinggung, gampang capek, dll. In my case, gak tau kenapa kalo pas lagi harinya tuh, ya ada-ada aja yang bikin sebel. Biasanya nggak begitu, tapi kok begitu hehehe. Ujian banget lah buat belajar sabar.
Yang paling berat hari pertama? Hmm...aku sih yes. Meski nggak semua cewe sama.  24jam pertama, itu yang paling  Subhanallah. Sakit banget, dan kalo tidur malem, dijamin bakal bangun karena sakitnya. Seringnya bangun dinihari, gara-gara nyeri. Trus, ngapain? Nggak ngapa-ngapain. Wkwk. Ya, bengong aja menikmati sakitnya, sambil berdzikir dan meringis dikit-dikit, berusaha berafirmasi positif kalau sakitnya akan hilang. Kalau di jam-jam begini, mengalihkan rasa sakit dengan baca buku, Whatsapp an atau main game or nonton yutub nggak berlaku. Megang hp pun rasanya berat dan males. Posisi apapun nggak enak. Jadi, ya cuman bisa diem aja duduk, tidur dan mbuh posisi apapun sampai sakitnya ilang.
Pernah sih dulu dibilangin, "sakit mens tu bakal ilang sendiri kok kalau nanti udah menikah." Gak tau juga sih, karena belum membuktikan wkwk. Tapi karena omongan ini, kadang kalau pas lagi dapet dan sakiiiiiiiit banget, di saat itulah berasa kayak "gue mau nikah sekarang juga!" 🤣🤣🤣 karena gak tahan sakit. Tapi ya masa...
Padahal 24 jam kemudian udah gak kepikiran lagi 🙄
Ada cara ngilangin rasa sakit menstruasi? Hm, dari pertama kali mens aku memang dilarang sama ibuku buat mengkonsumsi obat atau minuman menstruasi. Jadi ya aku biarin aja secara alami sakitnya berlalu. Bed rest sambil minum air yang banyak, jangan telat makan dan jaga tubuh selalu hangat jangan sampe kedinginan. Tapi kadang ada saat-saat tertentu dimana aku harus gak boleh tepar dan fit buat beraktivitas. Di saat seperti itu, aku minum air putih banyak-banyak, nggak telat makan, dan kadang aku konsumsi pereda nyeri (painkiller). Tapi ini opsi paling akhir kalo bener-bener sakit gak tertahankan. Aku juga menghindari minum soda, kopi dan teh karena menurutku, itu bikin jadi makin sakit. Pernah aku searching di youtube juga, kalo di Jepang, mengkonsumsi susu kedelai juga dipercaya membantu mengurangi nyeri menstruasi. Aku sih pernah coba, memang sedikit mereda, tapi ya tetep aja sakit sih hehe, memang udah alamiahnya begitu.
So, buat cowo-cowo yang baca tulisan ini, semoga kalian jadi lebih bisa paham tentang kondisi biologis cewe. Dan baik cewe maupun cowo, kondisi masing-masing cewe itu berbeda, jangan bandingkan dan jangan pernah menyepelekan rasa sakit yang dialami cewe yang menstruasi. 
Salute banget sama cowo yang paham hal ini. Kayak mahasiswa yang duduk di samping mahasiswi waktu UTS tadi 😊

Minggu, 22 Desember 2019

Love and BigBang






Janganlah kita jatuh cinta,
Kita belum mengenal satu sama lain dengan baik
Sebenarnya aku sedikit takut, maafkan aku


Janganlah kita membuat janji,
Kau takkan pernah tahu kapan esok datang
Tapi aku sungguh-sungguh ketika aku mengatakan
Aku menyukaimu

Jangan tanya aku sesuatu
Aku tak bisa memberi jawaban
Kita sangat bahagia seperti kita yang sekarang


Jangan mencoba untuk memilikiku
Mari kita tetap seperti ini
Kau akan membuatnya lebih menyakitkan, mengapa?

Jangan tersenyum padaku
Jika aku terikat padamu, aku akan sedih
Aku takut senyuman manis itu berubah jadi air mata

Jangan coba menjebak kita,
Dalam kata cinta
Karena itu adalah sebuah keserakahan yang tak bisa diisi

Jangan berharap terlalu banyak dariku
Aku tak ingin kehilanganmu
Sebelum menjadi terlalu dalam, sebelum kau terluka
Jangan percaya padaku


Gimana, setuju gak? Wkwkwk.
Itu bukan puisi buatanku, ngomong-ngomong. Bait-baik diatas adalah penggalan-penggalan lirik lagu BigBang yang berjudul Let's Not Fall in Love yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Hmm, belakangan ini, mungkin ada beberapa orang yang pernah denger nama band ini karena sebuah skandal yang sedang panas dibicarakan. Tapi, disini aku nggak berniat membahas tentang skandal itu. Lagu diatas hanya sebuah prolog yang kupilih untuk mengawali tulisanku kali ini.
So, judul yang cukup menarik buatku, "Let's Not Fall in Love". Marilah kita tidak saling jatuh cinta. Hmm...

Kalau kita cermati penggalan lirik diatas, ada beragam kekhawatiran yang dirasakan seseorang yang sedang jatuh cinta, tapi nggak mau untuk jatuh cinta. Nggak mau membuat ikatan. Nggak mau dimiliki atau memiliki. Loh...

Menurutku, banyak dan seringnya justru orang yang jatuh cinta itu berkecenderungan untuk segera ngomong, pengen doi segera tau yang dirasain, pengen dia juga punya rasa yang sama, dan kalo bisa ujung-ujungnya adalah bisa membuat ikatan dengan dia sebagai pengukuhan bahwa aku memilikinya dan dia memilikiku. Iya nggak sih?
Tapi lirik di lagu ini kok berkebalikan. Di situlah sisi menarik yang bikin aku jadi berfikir lagi tentang "perasaan" manusia terhadap sesama manusia.

Banyak diantara kita menganggap bahwa penolakan itu adalah sesuatu yang menyakitkan. Apakah, sebuah penolakan itu sesuatu yang salah?
Dan, apabila kita telah menyatakan perasaan, apakah lantas orang yang kita sukai wajib menjaga perasaan kita sehingga dia menjadi tidak berhak untuk mencintai orang yang dia inginkan?
Apakah rasa cinta yang dimiliki orang yang kita sukai terhadap orang yang disukainya itu sebuah kejahatan? Apakah orang yang diberi ungkapan perasaan, lantas tidak berhak untuk bersama dengan yang dia cintai?
Dan apakah itu harus dibayar dengan rusaknya sebuah hubungan pertemanan?
Haruskah ada konsekuensi yang harus dibayar orang yang menerima ungkapan perasaan jika dia memilih bersama orang yang disukainya?

Yah...
Pernah nggak, patah hati?
Trus ngerasa orang yang kita sukai jahat karena nggak mau bersama kita dan malah memilih bersama orang lain?
Atau...apa sih yang dirasakan ketika kita patah hati?
Sakit banget? Hancur? Kecewa? Marah? Nggak terima?

Well...kadang aku ngerasa, nggak ada yang salah dengan mencintai. Toh, mencintai itu sebuah rasa dan karunia dari Sang Pencipta. Dan muaranya pun kepada Dia. Indah, tidak ada yang salah. Dengan rasa cinta, kita jadi punya ketulusan hati. Dengan cinta, kita sadar bahwa hidup ini indah dan penuh dengan sentuhan Tuhan.
Lalu kenapa rasanya sakit?

Banyak manusia yang kutemui, pernah atau sedang patah hati. Menyakitkan, katanya. Cinta sebenarnya nggak menyakitkan, bukankah kita sering dengar itu? Menurutku itu benar. Cinta itu indah. Yang membuat menyakitkan adalah rasa ingin memilikinya. Kita gak sadar, ketika ada rasa ingin memiliki, maka kita semacam membuat ranjau untuk diri kita sendiri. Tapi, seringnya, justru kebanyakan orang lebih mengutamakan rasa ingin memiliki, ketimbang "cinta" itu sendiri.

Kalau cinta, tentu kita hanya akan terfokus untuk melakukan yang terbaik, bagaimana agar orang yang dicintai bahagia, tulus, dan sudah cukup puas dengan itu, sekalipun yang dicintai tidak mengetahui. Kita akan cukup dengan itu, bahkan, meskipun tanpa apresiasi sekalipun, kita bisa diam dan menerima dengan bahagia.

Tapi kalau rasa ingin memiliki, justru sebaliknya. Samasekali tidak ada ketulusan, hanya ingin mencitrakan diri sebaik-baiknya, dengan tujuan dapat segera memiliki. Dan harus tersampaikan, jika tidak, maka hati akan merasa tidak senang dan tidak puas. Setelah itu, muaranya adalah diterima, dan bisa memiliki. Jika tidak, maka patah sepatah-patahnya. Di situ kita harusnya sadar, bahwa ini sesungguhnya samasekali bukanlah cinta.



Jadi, cinta itu?


LANGKA

Jumat, 06 Desember 2019

Don't judge a book

Kapan-kapan, mungkin kita bisa berkenalan...


Hari ini, aku pergi ke pameran buku. Ada banyak buku dijual dari yang harganya mahal dan best seller, hingga yang diobral 10 ribuan. Aku bingung memilih buku mana yang ingin kubaca. Kutatap satu per satu, sesekali aku ambil dan kubaca sinopsis di sampul belakangnya. Tak lupa, tentu saja melihat banderol harganya. Teringat sebuah ungkapan "don't judge a book by its cover". Katanya, kita gak boleh menilai buku dari sampulnya saja. Aku melihat ada banyak buku dengan berbagai sampul yang menarik. Merepresentasikan, betapa dunia desain grafis pun berkembang begitu pesat. Bahkan, dengan membaca judul dan ilustrasi di sampul bukunya, bisa membuat kita tertarik. Paduan warna juga berpengaruh. Tak heran karena kita memiliki mata dan hampir selalu menarik kesimpulan berdasarkan apa yang kita lihat. Sampulnya indah, warnanya begitu menenangkan, judulnya pun menarik. Tak jarang, dari situlah alasan membeli pun muncul. Kita punya selera, dan kita punya mata. 

Jangan menilai buku dari sampulnya...
Tapi apa yang bisa kunilai dari sebuah buku yang dijual di pameran, selain penampilannya? Kenampakannya?
Buku itu semuanya terbungkus plastik pelindung agar tak kotor atau rusak. Tapi, dengan begitu, tentu aku tidak bisa membaca dan menilai isinya. Yah, tak ada harapan lain selain membaca sinopsis atau komentar para ahli di halaman belakangnya. Jika tidak ada, hmm...maka keputusan membeli atau tidak membeli hanya bisa diputuskan satu-satunya karena apa yang tampak di kedua mata kita.
Judul merepresentasikan isi dari buku itu sendiri. Dulu, aku pernah diberitahu oleh guru bahasa Indonesiaku, bahwa judul yang baik adalah yang bisa merepresentasikan isi dari cerita. Lantas, apakah semua penulis buku menggunakan cara yang sama dalam merepresentasikan isi bukunya dalam judul? Tentunya tidak. Tak seperti skripsi yang judulnya telah membuat kita tahu garis besar isinya, penulis buku di pasaan punya strategi mereka sendiri dalam menarik minat pembaca. "Bukan untuk Dibaca", salah satu judul misterius nan menarik yang kulihat di pameran itu. "Hamdim, Pistim, Yandim" hah...apalagi ini? Judulnya misterius sekali, dan sampulnya juga berwarna unik, perpaduan warna krim, hijau dan merah muda. Demikianlah kurang-lebih buku di pameran dinilai melalui sampulnya. Hmm...yaa...mungkin para penulis juga sudah mempertimbangkan baik-baik pula, bahwa ternyata, sampul pun tak kalah pentingnya dengan isi. Karena ternyata, ketika dipasarkan kelak, buku yang ia tulis akan tersampul plastik segel dan tentunya, calon pembaca akan bernasib sama sepertiku, menilai buku dari kenampakan sampulnya dulu. 
Setelah aku menilai sampulnya, aku pun memutuskan untuk membeli beberapa buku. Setelah buku itu lunas menjadi milikku, barulah aku bisa membawanya pulang dan melepas plastik pelindungnya, sehingga bisa kubaca dan kunilai dengan sebenar-benar menilai. Kubaca dari halaman awal hingga akhir. Bereksemplar buku...dengan isi yang berbeda, dengan daya tarik yang berbeda. Ada yang judul dan sampulnya menarik, tapi ternyata isinya biasa saja. Ada juga yang sebaliknya, judulnya dan sampulnya tidak menarik, tapi isinya luar biasa. Ada juga yang judul dan sampulnya menarik, isinya pun menarik. Dan tentu ada yang sebaliknya pula, judul dan sampulnya tak menarik, isinya pun tak menarik.
Ah, buku yang ini samasekali tidak seru! Tidak menyenangkan. Membosankan. Ungkapku, kala membaca sebuah buku. Buku itu lalu dipinjam oleh salah seorang temanku, dan dia berkata, buku itu sangat bagus dan penuh pembelajaran. Di lain waktu, aku dan temanku jalan-jalan ke pameran buku, aku melihat sebuah buku dengan judul dan sampul yang begitu menarik perhatianku. Dan di balik sampulnya ada potongan quote dari mark twain, tokoh favoritku. Waktu kutunjukkan itu pada temanku, dia menggeleng dan menunjukkan ketidaktertarikannya yang sangat berbanding terbalik denganku.

Jadi, aku tidak mengerti, apa yang dimaksud dengan "don't judge a book by it's cover"? Sementara, buku itu diterbitkan dan dipasarkan beserta plastik pelindung, yang membuatku tidak mungkin membacanya, kecuali pasca buku itu kubayar dan menjadi milikku. Dan selain itu, ternyata penilaian tentang bagus/tidak bagusnya suatu sampul dan isi dari sebuah buku sangatlah relatif dan tergantung dari persepsi serta selera orang yang membacanya. Setelah dibaca sampai akhir, barulah kita bisa tahu. Seiring dengan kita baca buku itu halaman per halaman, semakin kita memiliki penilaian. Bagi si A, mungkin buku ini bagus. Tapi tidak demikian dengan B. 

Beberapa tahun silam, adikku pulang sekolah membawa beberapa buku. Buku itu didapatkan dari sekolahnya yang baru saja selesai bersih-bersih perpustakaan. Beberapa buku kemudian diberikan kepada diswa yang telah membantu kegiatan bersih-bersih itu, sebagai imbalan. Buku-buku ini mungkin dianggap sudah tidak diperlukan, dan tidak relevan untuk dibaca siswa di sekolah, mungkin karena terlalu kuno. Mereka akan memperbarui koleksi di perpustakaan itu. Dengan bangga adikku memberikan salah satu buku kepada ibuku, judulnya "doa amalan dan dzikir pelunas hutang". Saat menerimanya, aku dan ibuku tertawa. Buku itu menarik, dari judul dan sampulnya membuat kami tertawa. Karena orangtuaku kebetulan termasuk manusia yang pantang akan berhutang materi. Dan pada saat menerima buku itu pun, kami sama sekali tak memiliki hutang materi kepada siapapun. Dengan kepolosan adikku yang masih SD yang mungkin berfikir bahwa banyak manusia dewasa yang memiliki masalah hidup ini : hutang. Jadi, kejadian ini sangatlah lucu bagi kami. Ya, karena kami hanya melihat sampulnya lalu merasa tak membutuhkannya.
Tapi, coba bayangkan jika buku itu diberikan kepada seseorang yang sedang benar-benar terlilit hutang dan sudah buntu? Mungkin, bisa jadi, dia akan sangat membutuhkan isi dari buku itu untuk menyelamatkannya, setidaknya, menenangkan jiwanya.

Yah...
Seperti itu pulalah kurasa, perjumpaan kita dengan sesama manusia. Kamu, mungkin tidak akan mengenaliku secara menyeluruh dari sampul dan judulku. Kamu harus membacaku dari halaman per halaman untuk benar-benar tahu, siapa aku.  Begitu pula aku, yang perlu untuk membacamu agar tahu yang sebenarnya. Bukan, bukan untuk mendekatkan. Hanya sekedar agar kamu tahu siapa aku, dan sebaliknya. Pepatah bilang, tak kenal, maka tak sayang. Menurutku, jangankan sayang, kamu bahkan tidak akan tahu aku yang sebenarnya. Jadi, kamu hanya akan melihat judul dan sampulku dari luar plastik pelindung. Jika kamu membacaku dari halaman awal hingga akhir, maka barulah kamu bisa menilaiku dengan sebenar-benar. Meskipun penilaian itu belum tentu benar. Kamu dan aku hanya akan menilai berdasarkan selera kita masing-masing. Bisa jadi menarik, atau tak menarik sama sekali. Itu semua tergantung persepsi dan selera kita. Lalu, jika kamu membaca setiap halaman demi halaman dan ternyata tak semenarik yang diharapkan, apakah lantas kamu akan meletakkan buku itu di gudang?
Dibandingkan itu, di beberapa sisi kadang  aku lebih menghargai mereka yang menilai buku dari sampulnya sesuai dengan selera mereka. Membaca sinopsis atau penilaian tokoh di sampul belakangnya, melihat banderol harganya, kemudian memutuskan untuk membeli atau meletakkannya kembali tanpa merusak plastik pelindungnya.