Selasa, 08 Januari 2019

Tara

Aku tahu rasanya menjadi kamu
Yang mencintai, dan ingin diakui
Yang dicintai, tapi tak butuh pecinta yang ini
Maumu adalah dia, sang dewi...
Yang slalu kau puja hingga tiba pagi
Yang rupanya kau bayangkan saat menjemput mimpi
Yang senyumnya selalu kau simpan dalam memori
Yang selalu lari, sembunyi...
Membuatmu makin jatuh hati
Dia, yang kau torehkan beribu kali
Kau simpan dalam lubukmu rapi-rapi
Meski di luarnya kamu berusaha lari
Tapi apadaya dia candu yang buatmu kembali lagi
Meski mencintai terasa sakit setengah mati
Kamu jalani dengan harap yang bahkan tak pasti
Kamu tak peduli...
Jika ada yang datang mencintai
Kamu hanya mau satu, dia yang paling jelita
Ya...aku tahu rasanya...
Menjadi kamu yang sedang memuja
Melukai pun terasa sah-sah saja
Meski dia yang didamba tak jua menyatakan rasa
Ya tapi mau bagaimana
Yang dimau bukan di depan mata
Bukan yang nyata punya cinta
Sampai disana, mataku terbuka
Bahwa cinta kadang tidak sempurna kelihatannya
Manusia lebih suka mengejar yang didamba
Bukan menerima yang mencinta
Sabarlah...
Aku tahu rasanya

Karena aku mendambamu
Dan yang kau rasa sama yang kurasa
Aku memahami tak bisa memiliki
Melihatmu mencinta, kasmaran, merindu
Aku tahu rasanya semua itu
Itu yang kurasa tentangmu

Semarang, 9 Januari 2019
Meta Gesti Rahayu

Minggu, 18 November 2018

Bolehkah, aku numpang di kopermu?

みなさん、こころ、大丈夫ですか。

Tak perlu menanyakan, sebenarnya. Karena aku yakin こころmu 大丈夫じゃない。perpisahan bukan hal yang menyenangkan. Meski sejatinya, bukan perpisahan, melainkan penundaan pertemuan. Dan sering kutemui wajah-wajah sedih mereka yang harus berjuang, jauh dari keluarga, jauh dari yang terkasih.

"Sensei, besok aku akan diantar keluarga. Tapi, sayangnya dia nggak bisa ikut...😢"

"Sensei, pulang dari Jepang nanti, aku mau segera menikah."

"Pulang dari Jepang nanti, aku akan segera bertunangan dengan dia."

Itulah sekeping mimpi yang dibawa oleh mereka. Pembelajar. Yang pergi ke negeri yang jauh, rela berpisah sementara dengan orang-orang terkasih, dengan harapan akan pulang membawa "oleh-oleh" terbaik.
Ilmu, harta. Dan aku berharap, mereka akan pulang membawa serta, iman.
Hidup di negeri orang, pahamilah, disitulah sebuah kesempatan besar untuk kita belajar mencari dimana "kekasih yang sebenarnya", berada. Disitulah kesempatan besar, untuk membuka hati dan pikiran kita untuk bertafakkur terhadap kebesaran dan sifat Pengasih PenyayangNya.

Kesetiaanmu, pada kekasihmu itu, jangan sampai kamu lepaskan hanya karena disana ada yang lebih baik di matamu. Dan, apalagi, kesetiaanmu terhadapNya, yang sungguh paling mahal diantara harta dan ilmu yang akan jadi "oleh-oleh"mu. Pulanglah menjadi manusia yang lebih baik, jangan pulang jika kamu tak membawa kebaikan.
Kopermu penuh dengan barang-barang yang akan kau butuhkan. Segala rupa kau siapkan. Iman, sudahkah kamu bawa serta?
Ataukah, dia tertinggal?
Negara itu, bisa saja merubah manusia yang datang. Jika kita datang, bukan sebagai manusia yang punya iman dan sadar, bahwa tanah itu, bukanlah tanah kebebasan yang membuatmu jauh dariNya, tak dapat menyentuhNya. Seolah kamu lepas dari jangkauanNya.

Jika demikian adanya, sungguh rugi...rugi...seharusnya kamu tak datang kesana, jika hanya untuk menjauhi Dia.

Kamis, 15 Desember 2016

My First Abroad #Part7 : 50 Fakta Jepang (versi saya)

Wew, ternyata tulisannya sudah sampai part 7. Mungkin saya kalap dan khilaf, nulis sebanyak ini. Hehehe. Tapi, dari sini saya menyadari satu hal guys, bahwa suatu cerita yang panjang memang lebih baik ditulis, sehingga kenangan itu bisa dibagikan ke banyak orang, kapanpun tanpa membuat kita lelah. Coba deh bayangin, mana sanggup saya nyeritain semua ini secara lisan? Trus, besok kalau mau cerita lagi, harus ulangin dari awal…hmmm…jadi menulis artikel ini adalah salah satu bagian dari mengabadikan momen hidup saya, selain dengan foto. Hehehe…

Pertama-tama, saya mau mengucapkan terimakasih kepada semua pengunjung blog saya ini. Semenjak saya share link blog saya ini ke Facebook, sudah beberapa orang mengunjunginya (saya lihat statistiknya naik!). Bahkan ada yang memberikan feedback berupa saran-saran kepada saya, terimakasih banyak! Meskipun sebagian besarnya masih Silent Reader, nggak apa-apa. Saya berdoa semoga postingan-postingan saya ini bermanfaat. Karena, tiada lain itulah tujuan saya^^

Begitu panjangnya part di postingan saya tentang “my first abroad” ini membuat saya merasa kasihan pada kalian guys, yang sudah membacanya capek-capek. Jadi, sebagai permintaan maaf saya, ini saya traktir teman-teman makanan yang saya highlight selama di Jepang. Supaya makanannya abadi dan bisa dinikmati kapanpun, maka saya tuangkan ke dalam foto juga. Hahahahaha (PHP)*tak ada yang abadi


Kalau sudah puas mantengin gambarnya, sekarang kita kembali ke benang merah.
Saya akan share beberapa fakta yang saya temukan selama berada di Jepang wal khususon Osaka. “penemuan nggak penting seseorang yang juga nggak penting”. XD
Oke, check this out!
  1.  Kebanyakan orang Osaka memiliki speed berjalan dan berbicara yang cepat.
  2. Kebanyakan orang Osaka ramah dan tidak takut pada orang asing. Jika Anda tersesat di jalan atau tidak dapat membaca peta, biasanya penduduk yang ditanyai akan dengan sabar menjelaskan, bahkan mengantarkan.
  3. Tidak boleh memotret seseorang (terutama anak-anak) dan mem-publish nya ke media sosial tanpa izin.
  4. Uang pecahan nominal terkecil di Jepang adalah ¥1 (dirupiahkan sekitar >Rp. 100) yang berupa koin, dan terbesar adalah ¥10.000 (dirupiahkan sekitar >Rp. 1.000.000) yang berwujud uang kertas.
  5. Uang kertas di Jepang tidak boleh robek atau lecek, karena tidak akan terbaca di jidouhambaiki atau vending machine atau mesin penjual (karena banyak mesin penjual otomatis di Jepang). jadi, jangan diremes-remes masukkin kantong ya! hehehe
  6. Kebanyakan sepeda motor yang ada di Indonesia diproduksi oleh perusahaan Jepang, tetapi di Jepang sendiri tidak banyak orang yang menggunakan sepeda motor.
  7. Sepeda motor yang digunakan oleh orang Jepang pada umumnya adalah sepeda motor tua (jika di Indonesia tampilannya seperti Honda Supercup) dengan kondisi yang terlihat masih prima, kemudian sepeda motor matic dan motor sport.
  8. Jarang sekali terdengar suara klakson.
  9. Jalan raya biasanya lengang, hanya di titik tertentu yang macet.
  10. Saat berhenti di lampu merah atau bahkan saat jalan macet, biasanya mobil akan berhenti dengan jarak yang cukup lebar dari mobil di depannya.
  11. Naik sepeda tidak boleh berboncengan.

  12. Lampu sepeda harus menyala pada malam hari.
  13. Parkiran sepeda, umumnya gratis.
  14. Di jalan raya, sepeda berjalan di trotoar tepi jalan.
  15. Jika sepeda hendak menyeberang, biasanya mengikuti lampu lalu lintas, dan kalau tidak ada, maka biasanya mobil akan mengalah dan mempersilahkan sepeda berjalan duluan. *tapi biasanya dua-duanya berhenti dulu, jangan asal srobot mentang-mentang pakai sepeda wkwk.
  16. Sepeda umumnya disertai kunci. Kalau tidak, bisa dicuri orang (yang khilaf).
  17. Hair dryer adalah barang penting bagi orang Jepang. seperti halnya shower dan air hangat. Hampir semua tempat tinggal pasti ada barang-barang perlengkapan mandi tersebut.
  18. Orang Jepang mandi 1x, pada malam hari sebelum tidur. Paginya biasanya hanya gosok gigi, cuci muka dan keramas.
  19. Di beberapa toilet umum, ada kloset yang dilengkapi dengan semprotan air dengan menekan tombol. Jadi, bahagialah jika menemukan toilet dengan kloset penuh tombol seperti ini. Tapi, untuk berjaga-jaga, sebaiknya selalu bawa air dan tisu basah.
  20. Di dalam kereta, kebanyakan orang Jepang, terutama anak muda akan diam dan menyibukkan diri sendiri. Biasanya mereka akan mendengarkan musik, membaca buku, main HP atau pura-pura tidur.
  21. Di Jepang, banyak cewek yang nembak cowok duluan.
  22. Banyak acara TV di Jepang yang menayangkan keindahan alam, kekayaan budaya dan sejarahnya. Saya sering menemukan siaran film kolosal dan juga reality show tentang survey mengenai ‘kehebatan’ Jepang di mata negara-negara lain (di episode kali itu, kru melakukan survey ke rumah-rumah tangga di berbagai negara dan menanyakan barang dengan brand Jepang apa yang mereka punya, dan itu semua rumah pasti punya) –saya rasa tayangan ini cukup mensugesti masyarakat untuk bangga terhadap negaranya-
  23. Di Jepang berlaku One Day School, jadi kalau kita naik kereta malam-malam, jam 9an, banyak anak-anak berseragam sekolah yang baru pulang.
  24. Anda yang mencintai makanan pedas, mungkin akan kesulitan mencari makanan pedas. Karena, orang Jepang umumnya tidak suka makanan pedas.
  25. Di Jepang, setiap hari ada gempa. Hanya saja, ada yang skala besar dan ada yang skala kecil, sehingga tidak disadari.
  26. Menurut statistik, ketika lulus SMA, tidak banyak orang Jepang yang melanjutkan ke jenjang kuliah. Diantara mereka ada yang bekerja, atau masuk ke sekolah vokasi/kejuruan.
  27. Sistem pendidikan dasar-menengah di Jepang sama seperti di Indonesia. SD 6 tahun, SMP dan SMA 3 tahun.
  28. Sejauh pengetahuan saya, di sekolah Jepang tidak ada program akselerasi.
  29. Di sekolah, anak-anak mempunyai jadwal piket untuk menyiapkan makan siang.
  30. Setelah makan siang, semuanya akan beres-beres. Tidak ada yang menganggur, semua anak mengerjakan apapun yang bisa dikerjakan. Bahkan, saya melihat ada yang mengelap tangga dengan handuk basah. Sendirian lagi!
  31. Bukan berarti tidak ada minusnya ya! anak SMA di Jepang juga banyak yang tertidur saat pelajaran di kelas.
  32. Memakai masker adalah hal yang lumrah. Jika seseorang batuk atau bersin atau meriang di depan banyak orang, umumnya pasti segera pakai masker, mungkin supaya tidak menular ya.
  33. Meja-kursi di sekolah-sekolah formasinya 1-1 (1 anak 1 meja-kursi)
  34. Meja-kursi di sekolah-sekolah terbuat dari besi ringan dan kayu sehingga mudah dipindah-pindahkan apabila berkelompok atau guru ingin merubah formasi duduk di kelas. Selain itu, awet.
  35. Usia dewasa di Jepang adalah 20 tahun.
  36. Anak-anak kecil di Jepang sudah dibiasakan untuk mandiri dan mengurus keperluannya sendiri meski bertahap sedikit demi sedikit. Hal ini dapat dilihat di toko perlengkapan bayi, banyak dijual tas-tas ransel kecil, yang digunakan untuk anak-anak membawa barang keperluannya sendiri saat bepergian.
  37. Jepang sangat maksimal dalam memanfaatkan bidang di atas dan bawah tanah untuk transportasi, sistem sanitasi dan pengolahan sampahnya juga sangat bagus.
  38. Di Jepang, dewasa ini ada masalah yang disebut shoushika atau penurunan jumlah anak. *kapan-kapan kita sharing lebih banyak untuk yang ini di postingan lain.
  39. Jumlah manula di Jepang lebih tinggi dari angka kelahiran.
  40. Saat ini, harga barang di Jepang dikenakan PPN 8% (Indonesia 10%)
  41. Kebanyakan penduduk Jepang di kota besar tinggal di apartemen, mereka yang memiliki rumah pribadi biasanya adalah mereka yang memiliki kemampuan finansial cukup kuat. Hal ini berbalik dengan Indonesia ya! hehe.
  42. Menurut beberapa sumber, biaya hidup tertinggi di Jepang adalah Tokyo (ibukota sih ya soalnya hehe) dan terendah di Okinawa (tapi Okinawa letaknya agak terpisah dengan Jepang, dan mereka memiliki bahasa yang berbeda)
  43. Kereta di Jepang sangat terkenal dengan ketepatan waktunya. *mungkin hal ini juga yang secara tidak disadari mendidik orang-orang Jepang untuk disiplin terhadap waktu.
  44. Rata-rata siswa SMA-usia lulusan SMA di Jepang melakukan pekerjaan paruh waktu di restoran, toko, mini market, dll. Bahkan ada yang mengerjakannya sejak SMP.
  45. Uang yang didapatkan dari bekerja paruh waktu biasanya digunakan untuk bermain dengan teman-temannya, nonton konser atau ditabung, misalnya untuk berwisata ke luar negeri.
  46. Kebanyakan orang Jepang tidak menganut agama.
  47. Di Jepang ada banyak kegiatan volunteer yang sangat bermanfaat bagi masyarakat umum dan generasi mudanya.
  48. Ramalan cuaca adalah hal yang sangat diperhatikan oleh orang Jepang.
  49. Di Jepang umumnya tidak mengenal ‘uang tip’.
  50. Hampir semua orang, termasuk anak kecil di Jepang hafal nomor telepon polisi, pemadam kebakaran dan ambulans.
Pastinya masih banyak fakta-fakta lain mengenai negara Jepang yang lainnya. Bagi teman-teman yang tahu, boleh dong ditambahkan, terutama yang pernah stay di Jepang lebih lama share dong ‘penemuan’ baru mu! Semoga bermanfaat^^
Oke, sebenarnya masih banyaaak momen yang saya ingin share ke teman-teman. Tapi, saya belum bisa share sekarang. Mungkin di lain kesempatan, saya akan lanjutkan di part 8, 9, 10…. (yang nulis tremor, yang baca pingsan) hahaha…


P.S : silahkan di share, tapi sertakan source ya!

Selasa, 13 Desember 2016

My First Abroad #Part6

Sesuai dengan judulnya, postingan kali ini adalah lanjutan dari My First Abroad #Part5. jangan bosen-bosen yak…hehehe. 
Saya hari ini berfikir, kenapa sih postingan ini part nya banyak banget? Pahamilah perasaan saya, kawan, kalau disuruh menceritakan tentang kegiatan saya selama ikut program di Jepang, rasanya semuanya berkesan dan sangat penting bagi saya. Itulah juga sekaligus menjadi alasan, mengapa postingan tentang Jepang ini baru bisa saya post setelah 2 tahun lamanya wkwkwk. Saya bingung banget kalau disuruh milih mana hal yang menarik untuk diceritakan. Hehe, baiklah…silahkan dibaca yang menarik bagimu saja ya!

Oke, postingan kali ini, seperti yang sudah saya janjikan, saya akan bercerita tentang pengalaman saya dan teman-teman mengeksplor jepang, tepatnya di area Kansai. Yap, setelah sebelumnya dapat kegiatan seru bernama Osaka Orientation kami pun jadi tahu tentang jalanan dan sistem transportasi Jepang yang bisa dibilang sangat rapi dan mudah. Menurut saya, Osaka dan sekitarnya (Area Kansai) itu merupakan daerah yang sangat ramah wisatawan. Mengapa? Karena hampir setiap sudutnya memberikan kemudahan bagi wisatawan untuk mengeksplor daerahnya. Hal ini bisa kita lihat dengan banyaknya peta dan denah tempat wisata yang dipasang di dinding tempat-tempat umum, hingga yang berupa pamflet-pamflet. Bukan hanya itu saja, tapi di setiap peta/denah tersebut juga disertakan jalur kereta api berbagai jenis dan trayeknya sehingga memudahkan wisatawan untuk dapat mengakses tempat tersebut tanpa kebingungan harus naik apa. Selain itu, transportasi di area ini juga didukung dengan adanya promo paket seperti yang namanya One Day Pass seperti yang pernah saya sebutkan di postingan sebelumnya. Jadi, kita bisa mengakses alat-alat transportasi tanpa perlu beli tiket setiap mau naik. Utamanya kereta listrik semua jenis, biasanya sih Shinkansen atau kereta cepat tidak termasuk *kalau ini mah mahal wkwk. di beberapa jenis One Day Pass, ada juga yang menggratiskan biaya masuk tempat wisata. One Day Pass ini berlaku untuk area tertentu saja. Kali ini saya beli di Kansai Airport dan berlaku untuk perjalanan di area Kansai. Harganya 2,400 lumayan kan, daripada ribet beli tiket tiap masuk stasiun…hehehe. Kalau mau masuk tinggal tunjukkan saja ke petugas stasiunnya.

Kebetulan juga waktu itu dari sekolah kami diberi sebuah kartu bayar bernama ICOCA *wah nyebut merk nih wkwk. Kartu tersebut dapat digunakan untuk membayar tiket kereta dan membayar belanjaan. Tinggal di scan saja. Kali ini, saya dan teman-teman sudah merencanakan untuk mengeksplor area Kansai. Setelah merencanakan matang-matang, karena One Day Pass hanya berlaku satu hari (namanya aja one day ya wkwk) maka kami putuskan memaksimalkan waktu 1 hari itu supaya dapat mendatangi semua wilayah Kansai.

Berangkat dari Senta jam 5 pagi (pagi buta wkwk). kami pinjam sepeda Senta untuk dipakai ke stasiun Rinkuu Town. Saya masih inget banget gimana bapak Security memasang ekspresi kaget karena pagi buta sudah ada yang pinjam sepeda. Kami pun berangkaaaat!!

Singkat cerita sampai di stasiun Rinkuu Town kami naik kereta satu kali ke Kansai Airport Station untuk ke counter One Day Pass. Setelah tiket ada di tangan, kami mempelajari sebentar beberapa rute yang tertulis di sana dan kemudian kami mulai perjalanan. Pertama-tama, kami ke….

NARA. Yeeeeaaaaaayyyy….!!!!

Kalau saya tidak salah ingat, kita harus 2x norikae atau oper kereta (haiyah oper…udah kayak kernet angkot aja nih wkwk). naik Tokkyuu (kereta listrik yang hanya berhenti di stasiun tertentu) kemudian turun di stasiun Nara. Waktu naik kereta ini, tiba-tiba teman-teman cowok pada lari keluar, kirain ada apaan, ternyata kita salah masuk ke gerbong khusus wanita wkwk. akhirnya kami pindah ke gerbong lain. Sampilah kami di Nara!!!


Waktu itu suhu udaranya cukup dingin, maklum…sebentar lagi sudah musim dingin. Dari stasiun, kami berjalan menuju ke Nara Kouen atau taman Nara. Cukup jauh jalannya (jalan berkilo-kilo adalah hal yang biasa bagi orang Jepang), jadi jalannya santai aja sambil lihat-lihat pemandangan, ya nggak? Haha. Kalau dengar Nara Kouen, maka yang akan langsung tersirat adalah Rusa!

Yap…di sana ada banyak rusa yang dilepas dan kita bisa main-main sama mereka! 


Di sepanjang jalan rusanya ada banyak da nada juga penjual Senbei, itu untuk wisatawan yang mau memberi makan rusanya. Hawanya dingin, dan daun-daunnya sudah memerah semua…deuuh…


Ada Nara National Museum juga, tapi kami nggak kesana. 


Meskipun taman-taman luas ini dilalui oleh jalan raya, tetapi kendaraan-kendaraan yang melaju akan langsung berhenti ketika ada rusa yang hendak menyeberang jalan. Di pinggir jalan raya yang cukup lengang tersebut, terdapat banyak toko dan retoran, dan di beberapa restoran terlihat barisan panjang orang-orang yang antri untuk beli makan. Antriannya super panjang sampai jauh, kayak antrian di pom bensin ketika BBM naik, serius! Dalam hati saya, “itu sabar banget yak mau makan aja ngantri segitu panjang” tapi itulah kenyataannya.

Lanjut jalan terus, kami menuju ke kuil tua di Nara yaitu Todaiji. Kali ini saya dan beberapa teman memutuskan untuk tidak masuk karena kami lelah. Kami berniat untuk duduk-duduk di bawah pohon sambil makan kecil dan foto-foto, sembari menunggu teman-teman lain yang masuk ke kuil.



Keluar dari Nara kami cari makan. Mengusahakan mencari yang halal. Hehehe. Tapi seperti kita tahu, susah sekali. Bahkan roti sekalipun juga belum tentu halal. Setelah mutar-muter kesana kemari dan lemes, kami pun memutuskan untuk makan daging yang ‘boleh’ dimakan saja. Kami makan nasi karage dan ramen (ramen? Ya…niatnya waktu itu karena ada teman yang beda agama, saya mau makan nasinya aja, trus ramennya buat temen. Tapi kemudian sama waitress nya ditanyain mau pakai kaldu sayur? *sepertinya dia tau saya nggak boleh makan babi), akhirnya dimakan jugalah itu ramen. Semoga halal beneran. Heuuuu…

Keluar dari Nara, kami menuju ke Kyoto. Dari Nara ke Kyoto agak jauh, bisalah dipakai buat tidur-tidur dulu wkwk. sore sekitar jam 3an kami sampai di stasiun Kyoto. Kemudian norikae ke stasiun Fushimi Inari, yap kami akan ke Fushimi Inari Shrine lagi! Karena waktu Study Tour itu hanya sebentar, kami ingin berlama-lama. 

Selesai dari sana, kami bingung mau kemana karena sudah sore. Sebenarnya rencana kami mau mengunjung Nara-Kyoto-Kobe. Tapi karena waktu tidak memungkinkan, kami pun meng-cancel Kobe (huhuhu). Akhirnya, diputuskan kembali ke Osaka, karena waktu itu teman-teman ada yang belum pernah ke Umeda Sky Building dan kami khawatir kalau ke Kobe akan terlambat kereta pulang, malam itu jam setengah 7 kami ke Umeda. Kali kedua saya naik ke Umeda Sky Building dan kali ini malam hari.

ada Ilumination!

Selesai…pulang…

Lalu bagaimana dengan Kobe???

Saya belum menyerah…

Minggu terakhir sebelum pulang ke Indonesia, saya, seorang teman (Luh novi) dan seorang dosen (Nur Sensei), janjian untuk pergi keliling kansai lagi. Sama seperti sebelumnya, berangkat pagi-pagi (kali ini naik bus nya Senta), kami membeli tiket One Day Pass. Destinasi pertama, Nara. Sebelumnya, di stasiun Osaka, kami janjian untuk bertemu teman lain (mahasiswanya Nur Sensei). 2 orang, 1 Indonesia dan 1 Jepang. kali ini, saya menyempatkan diri masuk ke kuilnya. Wow…di dalamnya bagus banget! Masuk ke kuil, ada patung Budha besar sekali, dan banyak patung-patung dan replica dari pahatan kayu. Bangunan ini semuanya terbuat dari kayu, dan kalau tidak salah adalah bangunan kayu tertua di dunia.

ngangetin badan, makan Kitsune Udon di Nara Kouen 


Ada tantangan nih… ada lubang di tiang kayu bangunannya, kamu bisa nggak  nerobos masuk kesana?

Oke, selesai dari Nara, kami lanjut kembali ke Osaka. Hari sudah agak sore. Kami jalan-jalan sebentar di sekitaran Abeno Harukas, ke mall di sekitarnya kemudian mencoba foto Purikura (yang sudah pernah saya sebutkan sebelumnya). Ini hasil fotonya…

Selesai dari Osaka, hari sudah petang, tapi menurut Mahasiswa Nur Sensei, Chiari-chan dan Mas Ibnu, masih cukup waktu untuk ke Kobe. Akhirnya kami menuju ke sana. Tapi, ternyata Chiari tidak ikut, dan kami berpisah di Osaka. Semoga suatu saat bisa bertemu lagi^^

Sampai di stasiun Kobe. Wah…ini udaranya paling dingin dibandingkan yang lain. Saya pun mulai nggak tahan. 2 jaket saya rangkap supaya tidak kedinginan. 

Kami berjalan menuju ke Masjid Kobe. 

Ketika masuk ke dalam perkampungan dimana Masjid Kobe berada, saya melihat disana banyak orang muslim dari timur tengah, Malaysia, dan lain-lain. Sayangnya masjid ditutup, kami bingung harus apa. Wkwk. sejenak kemudian, seorang  bapak-bapak timur tengah menghampiri kami dan memberitahu bahwa sebentar lagi aka nada sholat Isya’ berjamaah. Mau ikut nggak? “Silahkan masuk lewat pintu sana dan ambil wudhu.” Katanya, sambil menunjuk pintu lain. Wkwk. kami pun masuk dan menuju ke tempat wudhu di lantai 2, untuk jamaah wanita. Bagus banget bagian dalam masjidnya! Fasilitasnya juga sangat terawat! Kami bertemu 2 orang wanta dari India yang juga akan sholat. Sister Muslim nih ya^^



Selesai sholat kami mampir ke toko di depan masjid,bertemu bapak timur tengah tadi, kami pun berbincang sedikit, kemudian mata saya langsung blink-blink lihat ternyata tokonya menjual bahan makanan halal timur tengah-melayu. saya pun membeli *nd*mie (yang disini jadi makanan yang sangat ngangenin) dan juga bumbu masak. Kobe adalah sebuah kota yang cantik dan modern. Terlihat ketika kami berjalan menuju ke stasiun untuk pulang ke Senta, kami makan di sebuah taman dan menikmati pemandangan malamnya. Ditemani beberapa anak muda yang menggelar pertunjunkan dance, rap dan band.

Tapi jujur…saya belum puas mengeksplor Kobe…kobe masih begitu ‘misteri’ bagi saya. Semoga suatu saat saya bisa kembali kesana untuk memecahkan misteri itu.

Sampai ketemu di Part 7 ya!

My First Abroad #Part5

Oke, seperti yang sudah saya janjikan di artikel My First Abroad #Part4, kali ini saya akan menceritakan tentang keindahan kota-kota lain di area Kansai, selain Osaka.

Selama 1,5 bulan stay di Osaka, saya dan teman-teman (yang mulai menyadari asyiknya Lost in Japan) jadi sering banget jalan-jalan bareng, terutama ketika weekend (selain itu, ada program study tour yang disediakan oleh Senta juga). Kali ini saya akan menulis tentang Study Tour tersebut. Untuk study tour ini, diadakan dua kali. Dua-duanya ke Kyoto.

Kalau study tour, semuanya sudah di manage oleh pihak sekolah sedemikian rupa, terutama, jadwal. As we know, Jepang itu kebanyakan orangnya disiplin terhadap waktu, jadi aturan mainnya sudah dijelaskan di awal, Tidak ada bangun kesiangan. Tidak ada membuat orang lain menunggu. Perjanjiannya gitu, jadi kalau missal ada yang bangun kesiangan, atau kelamaan pas jalan-jalan di tempat wisatanya karena keasyikan shopping, yaudah, ditinggal. Dan itu terjadi beneran loh!

wkwkwk. Untung saja waktu bis kami melewati tempat dimana teman-teman saya yang tertinggal itu, beruntunglah…merekapun mencegat bisnya dan untung bisnya berhenti. Hehehe. Kejadian hari itu cukup mendebarkan, lucu, berkesan, dan juga memberikan banyak pelajaran. Setelah itu, semua peserta pun selalu disiplin terhadap waktu. Kalau belanja, pasti sudah memikirkan berapa waktu yang dibutuhkan untuk kembali ke parkiran Bus, plus meningat-ingat jalan yang dilalui. Karena kalau tidak, bisa kesasar trtus ditinggal deh sama rombongan. *disana kebanyakan peserta tidak dapat menggunakan HP kecuali ada WiFi.


Oke, kembali ke laptop.

Kunjungan pertama kami ke Kyoto adalah ke Fushimi Inari Shrine, Kanshundo dan Kiyomizu Temple.

1. Fushimi Inari Shrine

Fushimi Inari Shrine adalah sebuah kuil di Kyoto. Kyoto sendiri di Jepang sangat dikenal karena banyaknya kuil di kota tersebut. Menurut tour guide nya sih ada sekitar kurleb 10.000 kuil. Seperti biasa, untuk mengakses kebanyakan tempat wisata di Jepang kita harus berjalan cukup jauh. Dan seperti biasa, jalannya santai sambil lihat-lihat pemandangan. Wkwk. Santai tapi melangkahnya yang cepet ya. haha. Di Jepang kita harus menyesuaikan diri sama speed orang-orang sana yang kelihatannya jalan santai, tapi ternyata cepet. Oh iya, disana ada yang jual takoyaki enak banget! Potongan guritanya besar-besar *ngiler*.

guritanya ntabs! gede2!

Daya tarik dari kuil ini sebenernya ada di bagian agak ke belakangnya ya. jadi di bagian dalam kuil ini  nantinya kamu bisa lihat sembon dorii (千本鳥居)alias Gate khas kuil yang berjajar sangat banyak.


Kalau kita masuk, kita bisa melihat di tiang gate tersebut tertulis nama dan juga tahun penyerahan. Sepenangkep saya nih ya, jadi gate-gate tersebut adalah sumbangan dari orang Jepang (semacem sedekah kalau di agama islam). Oh hampir lupa, kata mereka di kuil ini bersemayam dewa bisnis. Jadi, mereka-mereka yang datang kebanyakan untuk berdoa memohon kelancaran urusan bisnis. (CMIIW, soalnya say amah dating kesini cuman liat-liat aja wkwk).

2. Kanshundo

Selepas dari Fushimi Inari Shrine tadi, kami pun menuju ke sebuah tempat yang namanya KanshundoKanshundo adalah nama sebuah toko Wagashi (kue khas Jepang) di Kyoto. Masuk kesana, kami langsung disuruh untuk cuci tangan, kemudian satu per satu dibagikan epron. *wew…seru nih kayanya

Kami bergegas menuju lantai 2, dan disana kami segera mencari tempat duduk. Bahan-bahan wagashi telah siap di hadapan kami dan seorang instruktur (chef wagashi) juga telah siap memberi arahan. Kami akan membuat 3 buah variasi bentuk wagashi. Sambil mendengarkan instruksi, kami membuat kue itu. 

Kue ini memiliki kulit yang bertekstur sangat lembut dan sangat manis, dengan isian berupa pasta kacang merah yang juga sangat manis. Yaa mirip-mirip kayak bakpia gitu lah yaa hehehe.
Ini hasilnya…



Setelah wagashi selesai dibuat, semua peserta dibagikan ocha (teh hijau Jepang) yang warnanya hijau pekat dan rasanya lumayan. Lumayan pahit. Hahaha. Kemudian, semua peserta menikmati ocha sambil memakan hasil jerih payahnya (wagashi masing-masing).

3. Kiyomizu Temple

Hari agak sore, kami pindah ke destinasi berikutnya yaitu Kiyomizu Temple. Di kanan-kiri jalan menuju masuk ke Kiyomizu Temple ini ada banyak toko di kanan-kiri jalan, banyak yang jual kue mochi dan kamu bisa nyoba gratis.

Waktu masuk ke dalamnya, kuil ini masih dalam proses perbaikan, tapi pengunjung tetap bisa masuk. Bangunan kayunya terlihat sangat tua tapi kokoh. Kuil utamanya sendiri terletak di atas, jadi modelnya itu mirip seperti rumah panggung, tapi panggungnya itu tinggi banget curam gitu. Menurut penuturan Guide nya sih, dulunya itu pernah berkembang keyakinan di masyarakat sekitar, bahwa barangsiapa melompat dari atas sampai ke bawah (dasar bangunan) dan mendarat dengan selamat, maka impiannya akan terwujud. Tapi seingat saya, yang selamat cuman berapa persen dan itu sangat sedikit. Yang suka bungy jumping, mau nyoba? Hehehe.
banyak cewe-cewe beryukata loh disini

Kuil ini cukup luas, kita bisa jalan-jalan dan menikmati pepohonannya yang rimbun. Jika kita berjalan lewat setapak, kemudian mengikuti jalan sampai turun ke bawah, kita akan menemukan taki (air terjun) kecil yang berjumlah 3. Masing-masing melambangkan cinta, kesehatan dan studi. Konon, jika minum salah satunya, makan akan tercapai juga keberhasilan di bidang cinta/kesehatan/studi, tergantung pilih yang mana. Tapi yang ngantri buanyaaakk…saya mah engga ikutan ngantri, ntar takut ditinggal wkwkwk.

selesai dari Kiyomizu Temple, kami menuju ke tempat pertunjukan Noh dan Kyougen. sayangnya tidak boleh ambil gambar/merekam yaa hehe, jadi silahkan di search sendiri^^ 
spoiler dikit, ini stage nya...


Yap…itulah tadi pengalaman kali pertama ke Kyoto melalui Study Tour Part 1. Part 2, kami mengunjungi Kinkakuji dan Ritsumeikan University.

Kinkakuji

Kinkakuji juga adalah sebuah kuil di Kyoto. Kuil ini terkenal sebagai kuil emas, karena bangunannya yang dilapisi oleh emas. Kuil ini dikelilingi oleh danau. Pada saat saya berkunjung kesana, kebetulan saat itu sedang masa puncak musim gugur, sehingga daun-daun memerah dan terlihat begitu romatis, udaranya juga sangat sejuk.
Ritsumeikan University

Well, Kyoto is awesome...

kalau pengen merasakan taste-nya Jepang, Kyoto adalah tempat yang tepat. penuh dengan sentuhan tradisional Jepang.


Oke, sekian dulu postingan saya kali ini. Next, saya akan menceritakan tentang pengalaman eksplor Jepang yang dilakukan secara swadaya (alah…) oleh saya dan teman-teman. Let’s Get Lost In Japan!

Senin, 12 Desember 2016

My First Abroad #Part4

Akhirnya…

Alhamdulillah Diberkahi waktu lapang nih buat melanjutkan artikel. oke, kemarin di bagian akhir artikel My First Abroad #Part3 saya nulis bahwa hari pertama pasca mendarat di Osaka saya sempet ‘pengen pulang’, gara-gera kedinginan. Wkwk. Tapi kemudian keesokan harinya saya dapet hidayah dari Allah Swt. untuk nyampur itu air kran warna biru sama merah sehingga jadilah air anget XD. Kemudian, perlahan-lahan, problem berhubungan dengan suhu pun solved!

Kebetulan tempat saya tinggal dan sekolah, di Senta itu menyediakan sepeda yang bisa dipinjam kapanpun untuk kendaraan keliling-keliling (selain itu juga tersedia 2 bus dengan trayek berbeda yang tentunja juga gratis). Setelah kenal dengan teman-teman satu lantai (lantai 12, isinya peserta program CI yang cewek-cewek), mulailah kami mengeksplor “Jepang”.

Awalnya sih kami baru menjelajah sekitaran senta aja, misalnya ke konbini (mini market), ke suupaa (super market), 100en shoppu (toko serba 100yen), mal yang namanya “Seacle”, atau ke kuil-kuil terdekat saja. Kebetulan, di list program belajar kami selama di sana ada juga yang namanya Osaka Orientation, jadi ceritanya seluruh peserta dibagi per kelompok untuk kemudian kelompok-kelompok itu diberi misi untuk menemukan beberapa landmark di Osaka, untuk kemudian dipresentasikan. 

Waktu itu saya dan kelompok dapat tugas untuk menemukan Umeda Sky Building dan Museum pemukiman Osaka tempo dulu, dibekali dengan kartu One Day Pass untuk transportasi Pascabayar di area Osaka, peta dan juga kupon-kupon masuk tempat wisata. Waktu yang diberikan yaitu 1 hari dan apabila ada sisa waktu, maka boleh digunakan untuk main-main ke tempat yang lain. Jujur, nyasar-nyasar di Jepang itu rasanya seru! Apalagi Osaka menurut saya adalah tempat yang beautiful in every single part. 

Nah, bermula dari situlah kemudian 6 minggu ke depannya kami jadi suka banget main-main dan nyasar-nyasar di area Kansai. Kemana saja?

Mulai dari Osaka dulu yaah…

Kalau di Osaka, sebenarnya ada banyak tempat terkenal dan pastinya banyak makanan enaknya. Yang saya kunjungi selama di Osaka adalah,

1. Umeda Sky Building (梅田スカイビル)

tidak jauh dari stasiun Osaka. Bangunan berupa gedung tinggi yang masuk dalam 20 Bangunan tertinggi di dunia. 



Dari atasnya kita bisa lihat kenampakan kota Osaka (kalau pas cuacanya bagus). 



di tempat ini juga ada supermarket kecil yang menjual pernak-pernik khas Osaka, dan ada food court nya juga. Tapi, daya tarik sesungguhnya dari bangunan ini sebenarnya terletak di atas gedung. Selain bisa menikmati pemandangan Osaka (yang banyak gedung dan sungai-sungai yang dilalui jembatan),

ada juga sebuah spot yang disitu tergantung banyak sekali gembok. Mirip seperti gembok cinta yang ada di Korea, jadi disini banyak pasangan yang memasang gembok yang bertuliskan nama mereka.


nggak cuma orang jepang aja, banyak gembok bertuliskan nama-nama orang asing juga disini



2.  Dotombori (道頓堀)

Kalau Dotombori, ini semacem distrik yang di dalamnya ada banyak toko, mal, restoran dan juga spot nongkrong. Kemudian, di dekat nihonbashi, kita bisa lihat layar besar yang disitu ada figure “Glico Man”. Banyak orang-orang asing maupun lokal yang tidak melewatkan momen untuk foto disana.




udon nya wenaaaaakkk


3.  Osaka-Jo (大阪城)

Osaka-Jo alias Osaka Castle atau istana Osaka. Dari stasiun perlu berjalan cukup jauh (kalau orang Jepang mah biasa). Santai aja jalannya, sambil lihat-lihat pemandangan. Hehehe. Seinget saya sih jam operasionalnya dari pagi (jam 8 atau 9 ya?) sampai sore jam 5. Kita bisa masuk dan naik sampai ke bagian paling ujung atas istana dan melihat pemandangan.  
ada banyak taman juga
Di dalamnya, menuju ke atas gedung, di setiap lantai kita bisa menyaksikan beberapa peninggalan bersejarah dan diorama-diorama yang menceritakan kehidupan Jepang masa lampau (awas, di beberapa spot, tidak diperbolehkan memotret). Di sekitarnya, seperti normalnya tempat wisata yah, ada juga outlet yang menjual oleh-oleh khas Osaka dan juga kedai-kedai yang menjual makanan dan minuman. Saya inget banget, di Osaka-Jo ini ada yang jual Pastry Taiyaki beuhhh enak banget rasanya! Kalau mau menyusuri area ini, juga ada paket wisata menggunakan kapal yang akan berkeliling di sungai sekitar area Osaka-Jo. Sungainya sangat bersih dan pemandangannya bagus, banyak gedung, restoran dan apartemen serta taman yang dilewati. Lebih bagus lagi kalau pas musim semi kali ya, karena di sepanjang tepi sungai ini adalah pohon Sakura.
ni dalemnya kapal





4. Museum Pemukiman Osaka Tempo Dulu (大阪暮らし今昔間)

Tempatnya ada di dalam gedung gitu, jadi sempat susah untuk menemukannya. Letaknya juga di lantai 3 (2 apa 3 ya?) gedung tersebut. Masuk ke area museum, kita bisa menyewa yukata dengan membayar 200yen untuk dipakai jalan-jalan dan berfoto di area museum, yang menggambarkan suasana pemukiman Osaka pada masa dahulu. 



kalau yang ini dioramanya
waktu itu ada anak2 SMP lagi pada study tour guys


Yang spesialnya, lokasi ini dirancang dengan ukuran asli, dan bagian langit-langit area ini bisa berubah menjadi suasana siang, malam dan mendung.

5. Abeno Harukas (あべのハルカス)

Ini juga salah satu gedung tinggi di Osaka. Hmm…kalau nggak salah sih gedung tertinggi di Osaka malah (CMIIW). Hehe…tapi cuman lewat dan nongkrong-nongkrong doang ya. selebihnya ke mall yang ada di dekat sana dan untuk pertama kalinya mampir ke photobox yang biasa disebut purikura (foto yang bisa bikin kelihatan cantik kayak karakter anime *waktu itu kamera B612, 360 belum booming). foto Abeno Harukasnya ilang...wkwkwk. silahkan serach sendiri di google yak, "Abeno Harukas".


Wkwk…

Hanya tempat itu saja yang saya kunjungi di Osaka. Selebihnya saya mengunjungi Kwansei University, sekolah-sekolah dan taman-taman saja hehehe…

Yang pasti seru lah kehidupan di Osaka.
Bukan hanya Osaka saja sih sebenarnya, menurut saya, Kansai adalah sebuah daerah di Jepang yang menurut saya sangat identic dengan satu kata, “Cantik”.
Mau tau, “Cantik” nya area Kansai selain Osaka?


*Berlanjut di part 5.